Friday, November 16, 2012

Cerita Menarik & Lucu Dibalik Pertempuran Heroik 10 Nopember 1945 Surabaya (3)



Mari kita lanjut kecerita selanjutnya, session ketiga. Bagi yg belum membaca session kedua, bisa klik disini...

Lanjut...

Kisah # 6: Panser Bermanuver Seperti Orang Mabuk
Sebagian besar para pejuang yang turut dalam pertempuran 10 Nopember adalah milisi-milisi, yang sebelum pecah perang belum pernah memegang dan mempergunakan senjata api, apalagi mortir dan panser. Anggota dari satuan-satuan yang dianggap militer professional pun belum tentu mahir semua dalam mengoperasikan senjata berat. Memang ada anggota PI atau TKR yang mampu mengoperasikan mortir atau panser dengan baik, tapi ada juga yang benar-benar masih perlu banyak belajar lagi. 

Sebagai misal saat terjadi perundingan pada tanggal 30 Oktober antara pemimpin Pusat dan Jawa Timur dengan pimpinan militer Inggris yang dipimpin oleh Mayjend Hawthorn. Entah terpancing oleh bunyi tembakan-tembakan meriam dari kapal perang Inggris, atau untuk balik menggertak pasukan Inggris, komandan TKR dan PI mengerahkan panser yang dimilikinya disekitar lokasi perundingan. Namun berhubung ada yang belum terlalu mahir nyetir panser, jadilah panser itu berjalan seperti orang mabuk. Muter-muter gak karuan, maju mundur entah mau kemana. Pokoknya, panser itu bergerak dengan maneuver yang barangkali tidak ada dalam manual cara menyetir panser yang baik dan benar. 

Namun begitu, manuver panser bak orang mabuk itu boleh juga untuk unjuk kekuatan tepat didepan mata Panglima Inggris untuk wilayah Jawa-Bali.

= = =

Kisah # 7: Sweet Revenge untuk Kempetai
Bagi arek-arek Suroboyo, markas kempetai adalah simbol praktek kebiadaban Jepang terhadap rakyat Indonesia. Di markas itulah segala bentuk kekejaman Kempetai Jepang terhadap rakyat Indonesia berlangsung. Tak terhitung banyaknya arek-arek Surabaya yang tewas karena penyiksaan oleh anggota Kempetai.

Rasa permusuhan arek-arek Suroboyo makin menjadi-jadi karena anggota Kempetai ndablek tidak segera menyadari perubahan politik yang terjadi disekitarnya. Mereka secara eksplisit tidak mengakui kenyataan bahwa sebuah negara berdaulat telah lahir. Dengan dalih tunduk pada ketentuan dalam perjanjian kapitulasi tanpa syarat Jepang terhadap Sekutu, anggota kempetai tidak mau mengakui lambang-lambang kedaulatan Indonesia. Selain itu, kehadiran anggota Kempetai yang masih bersenjata lengkap, dapat menjadi ”petasan dalam saku celana” yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menimbulkan luka bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Sikap Kempetai ini bermuara pada satu hal bagi para pemimpin arek-arek Suroboyo: cukuplah bagi Kempetai. Maka diputuskanlah untuk menyerang dan menghancurkan markas Kempetai. Agar serangan lebih memiliki daya rusak lebih hebat, ada pasukan yang membawa bom yang biasa dijatuhkan dari pesawat seberat sekitar dua ratus lima puluh kilogram. Bom itu secara perlahan digeser mendekati kearah markas Kempetai. Namun tidak mudah untuk mendekati markas Kempetai dan kemudian meledakkan bom itu.

Pasukan Kempetai yang memang terkenal personel pilihan, tidak gampang menyerah begitu saja meski markasnya telah dikepung arek-arek Suroboyo. Mereka pun berusaha keras untuk mempertahankan markas mereka. Mengetahui bahwa ada bom dengan potensi daya ledak yang hebat sedang dibawa ke markas mereka, anggota Kempetai matian-matian menghambat pergerakan bom itu dengan menembaki para pembawa bom. Kempetai nampaknya tidak berani menembaki bom yang dibawa oleh para pejuang, mungkin takut dengan efek ledakannya.

Satu demi satu pejuang yang bertugas membawa bom gugur atau terluka oleh tembakan anggota Kempetai. Namun, begitu ada yang gugur atau terluka, dengan segera akan selalu ada seseorang yang bergegas mengambil alih membawa bom. Begitu seterusnya korban terus berguguran, tapi pembawa bom silih berganti muncul. Arek-arek Suroboyo benar-benar bertarung seperti banteng ketaton (banteng terluka). Tak jarang pejuang berikutnya yang mengambil alih membawa bom merangkak di atas tumpukan jenasah rekan-rekan seperjuangannya yang sebelumnya membawa bom. Banjir darah segar para pemuda bangsa deras mengalir menggenangi jalan. Tapi arek-arek Suroboyo pantang surut, terus maju mendekati markas Kempetai. 

Hingga akhirnya....Bom itu pun berhasil mencapai tempat yang diinginkan. Selanjutnya...jedhueerrr....! Markas Kempetai, lambang kekejian paripurna pasukan Jepang, berhasil dijebol. Terbang pula semangat pasukan Kempetai. Gema takbir bergema dimana-mana diselingi teriakan-teriakan ”Maatekk ! Koen...C*k...!” (Mampuslah ! Kau...). Pasukan Kempetai yang dimasa lalu terdengar namanya saja disebut membuat bergidik banyak orang, akhirnya harus mengakui ketangguhan bertempur arek-arek Suroboyo.

Untuk mengenang peristiwa yang sangat heroik dan berdarah itu, pemerintah mendirikan Tugu Pahlawan tepat dilokasi bekas markas Kempetai. Jika melintas atau mengunjungi Tugu Pahlawan, ingatlah selalu pengorbanan besar para pemuda yang gugur saat menyerang markas Kempetai.

= = =

Kisah#8: Maunya Gaya Malah Celaka
Anggota TRIP masihlah muda-muda. Maklumlah, dalam kehidupan normal, mereka semua adalah pelajar. Situasilah yang membuat mereka meninggalkan bangku sekolah untuk memenuhi panggilan ibu pertiwi, menjadi pagar pelindung kemerdekaan bangsa.

Bagi anggota TRIP, perang melawan Inggris bukanlah sesuatu yang menakutkan, malah sesuatu yang menyenangkan dan tentu saja membanggakan. Ditengah hujan mortir, bom, atau guyuran pelor pasukan Inggris, terkadang mereka masih sempat berkelakar khas Surabaya. Pasukan Gurkha yang jadi andalan pasukan Mallaby pun, seringkali malah jadi bahan becanda diantara mereka. Dalam bahasa remaja sekarang, "perang ? Enjoy aja !".

Terkadang pula disebagian anggota TRIP muncul sifat sok gaya sebagaimana layaknya para remaja. Sifat ini terkadang membawa celaka seperti yang menimpa salah seorang anggota. Entah dia mau sekedar gaya, atau benar-benar tidak tahu bahaya main-main dengan alat perang. Saat menembakkan mortir, dengan konyol dia meletakkan landasan mortir kecil di pahanya. Mungkin karena dianggapnya bobot mortir tidak terlalu berat baginya. Namun dia tidak memperhitungkan daya hentak alat perang itu saat melontarkan peluru mortir. Akibatnya memang fatal. Hentakan landasan mortir saat menembakkan mortir menekan dengan keras paha anggota TRIP yang sok gaya itu sehingga terluka parah. Terpaksalah dia libur tidak ikut bertempur melawan Inggris karena lukanya itu.

Cerita Menarik & Lucu Dibalik Pertempuran Heroik 10 Nopember 1945 Surabaya (2)

Cerita Menarik & Lucu Dibalik Pertempuran Heroik 10 Nopember 1945 Surabaya (2)



Mari kita lanjut kecerita selanjutnya, session kedua. Bagi yg belum membaca session pertama, bisa klik disini...

Lanjut...

Kisah # 3: Evolusi Warna Celana Pasukan TRIP
Pada saat menjelang atau awal pertempuran 10 Nopember, sebagian pasukan TRIP memperoleh celana seragam berwarna khaki (kayak kopi susu muda gitu). Bagi para anggota TRIP yang masih muda-muda, celana itu merupakan kebanggaan, dan sekaligus merupakan celana andalan, karena jarang yang punya ganti. Maklum situasi ekonomi sulit. Kalau pun dicuci (ini sangat jarang dilakukan), terpaksa nunggu kering untuk dapat dipakai lagi…..

Karena gencarnya pertempuran, celana itu jarang di cuci. Bagaimana sempat nyuci celana, lha wong Sekutu tiada henti membomi Surabaya. Belum lagi celana itu sangat sering dipakai untuk tiarap atau merayap di tanah saat bertempur. Maka secara evolusi, warna celana itu pun berubah. Kalau semula berwarna khaki lambat laun warna celana itu menjadi kehitaman. Apalagi banyak diantaranya yang coba-coba melakukan trik “ajaib” dengan secara sengaja membenamkan di lumpur sungai, biar lebih awet katanya. Entahlah, dari mana ide konyol membenamkan celana di lumpur sungai berasal. Tapi tidak sedikit yang mengikutinya.

Itulah yang bisa disediakan oleh Republik saat itu bagi para pejuangnya....

= = =

Kisah # 4: Waspada Jika Terdengar “Wes…ewes…ewez...!”
Sebelum pecah pertempuran 10 Nopember 1945, sebagian besar pejuang dalam perang Surabaya adalah masyarakat sipil biasa, yang sebelumnya mungkin hanyalah tukang jual soto, pedagang dipasar, penarik becak atau dokar, atau pelajar seperti yang tergabung dalam TRIP. Pokoknya semua yang merasa kuat menenteng senjata, maju menantang pasukan Inggris yang baru saja menang Perang Dunia ke-2, termasuk pasukan Gurkha yang katanya hebat dalam bertempur. Satu-satunya unit bersenjata yang terlatih dan memiliki persenjataan yang cukup lengkap hanyalah Polisi Istimewa (PI).

Asal-usul mereka juga macem-macem, hampir segala suku di Indonesia terwakili: Jawa, Madura, Ambon, Batak, Manado, Bali, pokoknya macam-macam suku yang saat itu tinggal di Surabaya. Belum lagi laskar-laskar yang berasal dari beberapa daerah di Jawa Timur sendiri yang mengalir masuk ke Surabaya untuk memberikan dukungan. Kesemuanya memiliki satu tekad yang sama: lawan Inggris..! sebagai perwujudan kongkrit apa yang disampaikan secara bergelora oleh Bung Tomo dalam pidatonya.: “...Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih, maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!” Hanya ibu-ibu, orang tua dan anak-anak yang diungsikan ke luar Surabaya. Sisanya ya..itu tadi, meleburkan diri dalam pelbagai kelompok perlawanan rakyat.

Keadaanlah yang memaksa mereka untuk segera menyesuaikan diri, belajar bertempur sebisa mereka, dengan senjata apa saja yang mereka miliki (termasuk mungkin pedang dan keris warisan kakek buyut mereka). Semuanya bondo nekad (bonek. Eh, jangan samakan mereka dengan bonek supporter Persebaya ya?) karena tidak sudi tanah tercinta diinjak-injak penjajah, seberapa pun kuat militer mereka. Akibat kemampuan teknis tempur mereka pas-pasan, sering terjadi insiden yang mengenaskan. Misalnya, saat mencoba menembakkan mortir ke arah Undaan Kulon (nama sebuah tempat di Surabaya), dimana posisi musuh berada, tembakan arek-arek Suroboyo malah melenceng ke arah Undaan Wetan dimana sebagian teman perjuangan bertahan ! 

Namun seiring berjalannya waktu, arek-arek Suroboyo, para pejuang muda yang pemberani itu mulai ngerti cara berperang, termasuk mulai bisa memperkirakan jarak sebuah mortir atau bom yang akan meledak. Jika terdengar suara bersiutan : ”Siuuutttt……” arek-arek Suroboyo masih bersikap tenang karena itu berarti mortir atau bom masih jauh dari mereka. Tapi kalau sudah mendengar ”wesz…ewesz….!” rame-rame mereka segera tiarap atau mencari perlindungan karena itu berarti mortir atau bom sudah mendekat ke arah mereka.

Boleh juga pembelajaran yang mereka peroleh ! 

= = =

Kisah # 5: Mbok-mbok dan Mbak-Mbak yang Berjasa Besar Agar Para Pejuang tidak Loyo
Selain arek-arek Suroboyo yang terlibat langsung dalam pertempuran melawan Inggris, peran sejumlah Mbok-mbok (ibu-ibu) dan Mbak-mbak selama pertempuran 10 Nopember 1945 tidak dapat diabaikan. Selain sebagai tenaga medis yang merawat para pejuang yang terluka, yang tak kalah penting adalah peran mereka di dapur umum.

Seperti dikisahkan oleh seorang pemudi yang waktu itu ikut berjuang dengan pemuda-pemuda di Surabaya. Waktu itu ia adalah salah seorang yang pada pertempuran 10 Nopember turut terlibat dalam pertempuran sebagai tenaga di dapur umum.

Saat itu umur dia belumlah mencapai 20 tahun. Dia sengaja tidak ikut mengungsi keluar dari Surabaya meski dia tahu bom, mortir, atau tembakan senapan mesin Inggris tidak pandang bulu apakah pejuang bersenjata ataukah mbok-mbok renta. Dia sengaja tetap tinggal di Surabaya, dengan mengambil resiko yang sangat besar, karena ingin turut membela kehormatan dan kemerdekaan bangsa.

Waktu ditanya apakah dia tidak takut, dia mengatakan: ”Tentu saja ada rasa takut, lha wong bom Inggris jedhar-jedher nggak kenal waktu dan tempat.”. Alasan dia untuk tetap tinggal dengan mengesampingkan rasa takutnya adalah: ”Sak’no arek-arek sing melu perang iku. Arek-arek iku wis totoan nyowo ngadepi Inggris, gak tentu istirahat utowo turune, mosok dijarno luwe”. (Kasihan para pemuda itu. Para pemuda itu sudah bertaruh nyawa menghadapi Inggris dengan tak tentu istirahat atau tidurnya, masak dibiarkan kelaparan). Sederhana, namun berkat peran para Mbok-mbok dan mbak-mbak diseantero Surabaya diseluruh lini pertempuran, arek-arek Suroboyo sanggup memberikan pelajaran yang sangat pahit kepada pasukan Inggris yang sebagian diantaranya baru saja memenangkan pertempuran brutal di El Alamein

Dari dapur umum, logistik kemudian merembes ke lini-lini pertahanan arek-arek Suroboyo agar mereka tidak loyo karena kelaparan saat bertempur melawan pasukan Inggris.

Mengenai bahan pangan, menurut beberapa sumber, kiriman beras atau bahan pangan lainnya untuk para pejuang berasal dari kota-kota sekitar Surabaya seperti Pasuruan, Probolinggo atau daerah lainnya di Jawa Timur. Bantuan-bantuan itu (termasuk bantuan personel tempur) kian memperkuat semangat mereka dalam menghadapi Inggris, karena mereka tahu bahwa saudara-saudara sebangsa mereka, tidak membiarkan mereka berjuang sendirian menghadapi makelar penjajah Belanda (Inggris) yang pingin menjarah kembali kemerdekaan Indonesia.. 

Pertempuran 10 Nopember memang seperti Selametan kampung, semua ikut serta, tidak mau ketinggalan dengan pelbagai peran mereka. !


Bersambung...

Cerita Menarik & Lucu Dibalik Pertempuran Heroik 10 Nopember 1945 Surabaya (1)

Cerita Menarik & Lucu Dibalik Pertempuran Heroik 10 Nopember 1945 Surabaya (1)



Siapa penduduk di Indonesia yang tidak tahu tentang pertempuran 10 November 1945 yang terjadi di Surabaya sehingga saking besarnya pertempuran ini hingga menjadikan Surabaya sebagai ikon kota Pahlawan. Penyebab dari pertempuran ini karena datangnya tentara Inggris ke Surabaya dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang yang sudah kalah pada perang dunia 2, tapi kedatangan tentara Inggris ini ternyata diikuti oleh tentara Belanda yang notabene pernah menjajah Indonesia selama 3,5 abad dan inilah yang membuat marah penduduk Surabaya.

Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Tapi dibalik hebatnya pertempuran ini, ternyata terselip cerita menarik dibalik pertempuran ini. Apakah cerita itu, mari kita lihat dibawah ini :


Kisah # 1: Pak Lek ! Endhi Londone…?!
10 Nopember 1945 dipagi hari. Inggris benar-benar melaksanakan ultimatum mereka. Seluruh kekuatan militer yang ada di Surabaya dan Selat Madura mereka kerahkan untuk membom habis-habisan Surabaya, dari darat, laut dan udara. 

Kapal perang Inggris dari Selat Madura terus-menerus memuntahkan bom-bom maut kearah daerah pertahanan Arek-arek Suroboroyo. Di darat tank-tank Inggris mencoba merangsek garis pertahanan Arek-arek Suroboyo, yang ternyata tidak semudah dibayangkan Jenderal Mansregh karena mendapat perlawanan sengit. Sementara dari udara, pesawat tempur Inggris dengan leluasa menembaki dan membom pertahanan Arek-arek Suroboyo yang relatif terbuka tanpa ”payung” pertahanan udara yang berarti.

Berkat teknologi perang Inggris canggih saat itu, bom-bom Inggris yang dimuntahkan dari kapal perang berjatuhan menghajar hingga jauh ke bagian Selatan Surabaya seperti kawasan Darmo, yang terletak belasan kilometer jauhnya dari Selat Madura. Arek-arek Suroboyo yang berada di daerah tersebut cuma bisa misuh-misuh (memaki-maki) karena terus menerus dihujani bom Inggris tanpa bisa membalas sama sekali karena umumnya mereka hanya memiliki senjata untuk pertempuran jarak dekat seperti bedil rampasan, mortir, clurit, pedang....dll

Seorang Arek Suroboyo umur belasan tahun beringsut mendekat kepada senior mereka. Ditengah riuh rendah suara ledakan bom Inggris, dia bertanya: ”Pak Lek ! Pundhi Londone ?!” (Paman, mana orang Inggrisnya?.Saat itu lumrah jika menyebut Inggris dengan Londo, karena sama-sama kulit putih, dan sama-sama hendak merampas kemerdekaan)

”Opok’o ?” (kenapa?) balik si pejuang senior bertanya

”Wonge gak kethok, bome wis tekan mrene !” (Orangnya tidak kelihatan, bomnya sudah sampe sini !”). ”Wis gak sabar pingin gelut ambek Londo ! Mboh aku sing mati, opo Londo gendheng sing mati !” (sudah tidak sabar saya ingin berkelahi dengan orang Inggris, entah saya yang mati, atau Inggris gila yang mati !”)

= = = 

Kisah # 2: Pidato Bung Tomo yang Menghipnotis Seisi Surabaya
Bung Tomo adalah ikon pertempuran heroik Surabaya. Kemampuan orasinya yang luar biasa mampu membakar semangat juang segenap rakyat Surabaya dalam menghadapi pasukan yang sangat terlatih dan diperlengkapi dengan perlengkapan perang yang sangat modern untuk masanya. 

Bung Tomo adalah seorang nasionalis tulen. Berulangkali dalam orasinya yang mengelegar dia menyebut “pemuda-pemuda Indonesia di Surabaya” atau “bangsa Indonesia di Surabaya”. Selain itu, Bung Tomo juga seorang yang sangat sportif. Meski masyarakat Surabaya mendapat ultimatum dan provokasi dari Inggris, dia memperingatkan “djangan moelai menembak, baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu”.

Orasi Bung Tomo adalah salah satu factor penting yang membuat mereka-mereka yang sehari-harinya adalah tukang soto, abang becak, kusir delman, wong kampong, dan lain-lain komponen sipil rakyat Indonesia di Surabaya, berani menghadapi ultimatum Jenderal Mansregh laksana banteng terluka.

Pidato Bung Tomo adalah saat yang sangat dinantikan oleh rakyat Surabaya. Sesaat sebelum Bung Tomo mulai orasinya di radio, Surabaya bagaikan kota mati, sepi. Rakyat berkumpul ditempat-tempat yang bisa menangkap siaran pidato Bung Tomo yang dipancarkan oleh radio.

Setiap orang Surabaya mengaku merinding dan gemetaran tiap kali mendengar orasi Bung Tomo. Tidak sedikit pula yang bercucuran air mata usai mendengar pidato Bung Tomo. Mereka merinding dan gemetar bukan karena takut terhadap ultimatum Jenderal Mansregh, atau gentar menghadapi pertempuran besar esok hari, tapi mereka merinding dan gemetar karena tekad yang bulat untuk menghadapi ultimatum pasukan Inggris. Merinding untuk segera berhadapan secara jantan, dengan dada tengadah mempertahankan kemerdekaan yang hendak dijarah dan kehormatan bangsa yang hendak dilecehkan.

Suara Bung Tomo yang menggelegar, pilihan kata-katanya yang cerdas dan lugas, serta teriakan takbir yang menggetarkan jiwa tiap muslim yang mendengarnya, adalah perpaduan sempurna dalam membakar semangat, bukan saja mereka yang asli arek Suroboyo, namun juga pemuda-pemuda Indonesia lainnya dari suku-suku bangsa lainnya yang tinggal di Surabaya: Ambon, Sulawesi, Batak, NTT, Bali, Kalimantan, dan lain-lain suku bangsa untuk bersama-sama dalam satu tekad melawan pasukan penjajah.

Tak heran, tiap kali usai pidato Bung Tomo dipancarkan, ungkapan seperti: ”Mboh aku sing mati, opo Inggris keparat sing mati ! Gak sudhi aku nyerah nang Inggris ! (entah saya yang mati, atau Inggris keparat yang mati. Tidak sudi aku menyerah kepada Inggris). Pasukan TRIP yang rata-rata berumur belasan tahun, dengan penuh percaya diri siap bertempur menghadapi pasukan Inggris yang pernah mengalahkan pasukan Rommel di mandala Afrika.

Berikut adalah trankrip pidato Bung Tomo berdasarkan rekaman pidatonya.

Bagian Pertama
Bismillahirrahmanirrahim…
Merdeka!!!
Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia,
teroetama, saoedara-saoedara pendoedoek kota Soerabaja
Kita semoeanja telah mengetahoei bahwa hari ini tentara Inggris telah menjebarkan pamflet-pamflet jang memberikan soeatoe antjaman kepada kita semoea.
Kita diwadjibkan oentoek dalam waktoe jang mereka tentoekan, menjerahkan sendjata-sendjata jang kita reboet dari tentara djepang. 
Mereka telah minta supaja kita datang pada mereka itoe dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaja kita semoea datang kepada mereka itoe dengan membawa bendera poetih tanda menjerah kepada mereka.
Saoedara-saoedara,
didalam pertempoeran-pertempoeran jang lampaoe, kita sekalian telah menundjukkan bahwa
ra’jat Indonesia di Soerabaja
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Maloekoe,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Soelawesi,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Poelaoe Bali,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Kalimantan,
pemoeda-pemoeda dari seloeroeh Soematera,
pemoeda Atjeh, pemoeda Tapanoeli & seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini,
didalam pasoekan-pasoekan mereka masing-masing dengan pasoekan-pasoekan ra’jat jang dibentuk di kampoeng-kampoeng,
telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa didjebol,
telah menoenjoekkan satoe kekoeatan sehingga mereka itoe terdjepit di mana-mana
Hanja karena taktik jang litjik daripada mereka itoe, saoedara-saoedara
Dengan mendatangkan presiden & pemimpin-pemimpin lainnja ke Soerabaja ini, maka kita toendoek oentoek menghentikan pertempoeran.
Tetapi pada masa itoe mereka telah memperkoeat diri, dan setelah koeat sekarang inilah keadaannja.
Saoedara-saoedara, kita semuanja, kita bangsa Indonesia jang ada di Soerabaja ini akan menerima tantangan tentara Inggris ini.
Dan kalaoe pimpinan tentara Inggris jang ada di Soerabaja ingin mendengarkan djawaban ra’jat Indonesia,
ingin mendengarkan djawaban seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini
Dengarkanlah ini hai tentara Inggris,
ini djawaban ra’jat Soerabaja
ini djawaban pemoeda Indonesia kepada kaoe sekalian
Hai tentara Inggris!,
kaoe menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera poetih takloek kepadamoe,
menjuruh kita mengangkat tangan datang kepadamoe,
kaoe menjoeroeh kita membawa sendjata-sendjata jang kita rampas dari djepang oentoek diserahkan kepadamoe
Toentoetan itoe walaoepoen kita tahoe bahwa kaoe sekalian akan mengantjam kita oentoek menggempoer kita dengan seloeroeh kekoeatan jang ada,
Tetapi inilah djawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih,
maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!
Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
siaplah keadaan genting
tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.
Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…!
MERDEKA!!!

Bagian Kedua
Bismillahirrahmanirrahim…
Merdeka!!!
Saoedara-saoedara !
Toekang-toekang betjak, saoedara-saoedara bakoel-bakoel soto, bakoel-bakoel tahoe. Saoedara-saoedara orang-orang Madoera, toekang rombengan, Saoedara-saoedara wong-wong kampoeng Suroboyo. Saoedara-saoedara arek-arek Suroboyo, pemoeda-pemoeda Suroboyo, dan saudara-saudara semua pemuda-pemuda Indonesia yang tergabung dalam pasukan-pasukannya masing-masing di Surabaya ini
Habiskanlah lawan kita ! Pertahankanlah kota kita.ini ! Toehan akan beserta kita. Insya Allah saoedara-saoedara, kemenangan akhir pasti kita yang akan mencampainya.
Allahhu Akbar ! ... Allahhu Akbar ! Allahhu Akbar !
MERDEKA !

RAMALAN TENTANG KIAMAT SUKU MAYA YANG TELAH DIPATAHKAN

RAMALAN TENTANG KIAMAT SUKU MAYA YANG TELAH DIPATAHKAN


Dari Pak Ma'rufin Sudibyo (LAPAN Indonesia)

Pak Ma'rufin berpendapat:
"setelah membaca lebih jauh, berakhirnya kalender Maya di 21 Desember 2012 itu lebih disebabkan oleh berakhirnya siklus kalender, yang disebabkan oleh “kehabisan angka”. Sistem Kalender Maya berbasiskan pada bilangan 20 (bi-desimal) , berbeda dengan kalender lainnya yang berbasiskan bilangan 10 (desimal). Mengutip tulisannya mbak Avivah Yamani di langitselatan.com, dengan metode penulisan 0.0.0.0.0 dan hobi-nya suku Maya dengan siklus 13 dan 20 serta start kalender Maya ini ekivalen dengan 11 Agustus 3114 BCE, maka posisi 13.0.0.0.0 sebagai angka terbesar dalam kalender Maya ini akan ekivalen dengan 21 Desember 2012. Nah setelah 13.0.0.0.0 ini terlampaui, kalender Maya tidak mengenal angka 13.0.0.0.1 atau yang lebih besar, karena akan kembali ke posisi 0.0.0.0.1 alias angka paling kecil. Inilah yang saya maksud dengan “kehabisan angka” tadi. So, satu hari setelah 21 Des 2012 itu, atau pada 22 Desember 2012, kalender Maya memulai siklus barunya dengan angka 0.0.0.0.1.

Sementara jika meninjau fakta2 “ilmiah” yang dikatakan menyertai isu kiamat 2012 ini, sebagian besar juga meragukan. Sebut saja misalnya retaknya medan magnet Bumi, yang disebut-sebut telah mencapai panjang 160.000 km di angkasa sebagai South Atlantic Anomaly (SAA). Sementara fakta yang ada, SAA ini merupakan area dimana posisi sabuk radiasi van-Allen paling dekat dengan permukaan Bumi dan terjadi akibat perbedaan viskositas antara batuan kerak Bumi dan lapisan selubung dengan inti Bumi. Perbedaan viskositas membawa pada perbedaan kecepatan rotasi, yang (meski kecil sekali), memiliki beberapa efek, ya salah satunya munculnya SAA ini.

Sementara soal Yellowstone caldera yang dikatakan akan meletus dahsyat kembali (dengan memuntahkan tephra sedikitnya 2 juta km3, jika merujuk letusan terdahulu) guna mengikuti siklus letusan 600.000 tahun sekali, jika kita cek langsung ke USGS (yang langsung memonitor kaldera ini), ternyata Yellowstone memiliki periode letusan rata-rata 640.000 tahun. Jika kita “saklek” dengan angka ini, masih ada selang waktu 40.000 tahun bagi Yellowstone untuk meletus. Meski, dalam vulkanologi, yang namanya periode letusan rata-rata itu hanyalah menjadi patokan, bukan untuk keperluan prediksi apalagi peramalan. Sebut saja misalnya dengan Gunung Merapi di Jateng-DIY. Dalam perspektif vulkanologi, gunung ini seharusnya sudah meletus kembali karena periode letusannya 2 – 3 tahun (dengan letusan terakhir Juni 2006 silam), namun sampai kini gak ada aktivitas yang menunjukkan perkembangan ke sana.

Di Yellowstone, memang pada Januari lalu terekam adanya seismic swarm, alias rangkaian gempa2 vulkanik yang menjadi tanda migrasi magma. Namun selang waktu seismic swarm ini sangat pendek (hanya 2 minggu) sehingga tak bisa diterjemahkan sebagai adanya pasokan magma secara terus menerus yang sedang menembus kulit Bumi menuju ke permukaan kaldera. USGS menyebut seismic swarm berdurasi pendek ini biasa terjadi di Yellowstone caldera, demikian pula di kaldera2 lain yang ada di dunia baik mulai dari Toba (yang ini juga rutin direkam BMKG), Krakatau maupun yang paling muda seperti Pinatubo.

Sementara soal planet Nibiru, alias planet X itu, seperti pernah saya tulis, itu cuman mitos lama dari era Babilonia yang tak pernah bisa dibuktikan. Jika ada planet bernama Nibiru yang ukurannya hampir menyamai Saturnus itu, maka tentunya planet ini sudah nongol dalam pelat-pelat fotografis seabad silam ketika Clyde Tombaough dkk melakukan systematic search untuk menemukan Pluto. Apalagi dengan teknologi terkini dimana planet tidak hanya diobservasi dengan spektrum cahaya tampak semata, namun juga dengan inframerah, ultraviolet dan gelombang radio. Ketika teknologi astronomi masa kini bahkan demikian powerfull untuk menemukan sejumlah planet baru yang mengorbit bintang2 tetangga alias ekstrasolar planets, maka sulit diterima jika ada benda langit asing sebesar Saturnus yang masih bersembunyi dalam region tata surya kita, dalam rentang jarak dari orbit Pluto hingga kawasan awan komet Oort.

Memang, seperti pernah ditulis pak AR Sugeng R, potensi terbesar dari Kiamat 2012 adalah badai Matahari, dimana secara siklusnya pada rentang waktu 2011-2012 sunspot number Matahari memang mencapai puncaknya dan berkorelasi langsung dengan tingginya semburan proton energetik dari permukaan Matahari ke segala arah. Model2 matematis yang dikembangkan NASA menyebut badai Matahari ini akan menyamai peristiwa Carrington 1859 silam, dengan efek yang merusak terhadap sistem telekomunikasi, satelit dan kelistrikan. Sebagai gambaran, badai Matahari 1989 (yang kekuatannya mampu membelokkan arah jarum kompas hingga 7 derajat dari magnetic north) mengakibatkan kerusakan pada trafo listrik Ontario Hydro dan menyebabkan sebagian AS dan Kanada mengalami mati listrik hingga 9 jam. Dan dalam badai Matahari 2011-2012 (yang diperkirakan mampu membelokkan arah jarum kompas hingga 15 – 20 derajat), tentunya kerusakan itu bisa menjangkau daerah yang lebih jauh, bahkan hingga ekuator.

Tentang tumbukan benda langit, memang tata surya kita sedang melintasi bidang galaksi Bima sakti dan itu akan menyebabkan perturbasi gravitasi dari bintang2 tetangga kita menjadi maksimal. Persoalannya, kapan perturbasi itu mampu menghentakkan jutaan benda langit mini di awan komet Oort dan sabuk asteroid Kuiper hingga berubah menjadi komet-komet yang menghujani tata surya bagian dalam, saat ini belum bisa dikuantifikasi. Kita hanya tahu itu akan terjadi, tapi kapan ? Belum diketahui."

Gambaran Suku Maya pada jaman itu :

Sunday, November 11, 2012

Serial Number Photoshop CS6 Terbaru


Serial Number Photoshop CS6 Terbaru
1330-1971-4830-5668-6067-1762
1330-1912-2628-0850-0232-4869
1330-1148-0472-2735-6555-0617
1330-1544-4195-8131-3034-5634
1330-1886-0283-4688-9152-2034
1330-1118-3174-6558-8260-5378

Tuesday, November 6, 2012

serial number untuk corelDraw X4

serial number untuk corelDraw X4:
DR14B04JYU33FJLYZ2KR6DZLHEKN2FGXN
DR14B58466N9UJYZFKRW4GEGJM7UGCCRJ
DR14B938P6AS88EE4SD6MTKBLNZX5KWLJ